Saturday, November 24, 2012

Keindahan Telaga Warna Dieng


Dieng adalah kawasan dataran tinggi di Jawa Tengah, yang termasuk wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo. Letaknya berada di sebelah barat kompleks Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Wilayah dieng terbagi menjadi dua yaitu Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara dan Dieng ("Dieng Wetan"), Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Wilayah ini merupakan salah satu wilayah paling terpencil di Jawa Tengah. Dataran tinggi dieng  memiliki kekayaan alam dan kekayaan budaya yang sangat luar biasa. Salah satu ikonnya adalah Telaga Warna, telaga jelita dengan hutan lindung yang masih perawan di sekelilingnya.
Memasuki kawasan dataran tinggi Dieng saya sudah merasakan hawa dingin yang sangat ekstrim, angin kencang super dingin yang semakin siang dinginnya malah semakin menusuk tulang. Switer yang tebal saja masih terasa dinginnya. Jangan coba-coba wisata di Dieng tanpa membawa baju hangat. Cuaca yang sedikit mendung, semilir angin yang sepoi-sepoi dipadu dengan kicauan burung di tengah lautan Dandelion atau Randa Tapak merupakan sebuah nyanyian alam yang senantiasa menunjukkan kesempurnaan harmoninya. Ini bukan sebuah ungkapan belaka, namun sebuah kenyataan yang bisa ditemukan tumbuh liar di sepanjang  jalan setapak  kawasan telaga warna. Tanaman ini juga banyak tersebar di sekitar Museum Kaliasa, Padang Rumput Dekat Komplek Candi Dieng dan tempat-tempat lainnya.
Dataran Tinggi Dieng berada di 2093 meter di atas permukaan laut. Nama Dieng sendiri dari kata Di Hyang yang berarti Negeri Para Dewa (Abode the Gods). Memang di masa jaman dulu Dieng merupakan pusat peradaban Hindu, katanya lebih dari 400 candi yang dibangun pada sekitar abad 8 dan 9 ditemukan, tapi sayang sampai hari ini hanya 8 candi yang masih utuh. Kawasan Dieng juga memiliki banyak sekali tujuan wisata. Jadi kalau hanya 1 hari disana rasanya kurang, berhubung liburan saya juga terbatas jadi saya hanya ke tempat-tempat yang jadi highlight Dieng yaitu kawasan candi arjuna, kawah sikidang dan tujuan utama saya yaitu telaga warna.
Telaga Warna yang memang jadi tujuan utama liburan kali ini, suasananya yang teduh karena tertutup Pepohonan Hijau cocok bagi para Wisatawan untuk melepas lelah setelah berkeliling ke obyek wisata Dieng lainnya. Selain itu Warung Makan, Pusat Jajanan dan Oleh-oleh juga banyak bertebaran disekitar Obyek Wisata ini, saya berkeliling menjelajahi tempat wisata dengan menggunakan sepeda motor yang memang saya gunakan sejak dari kuningan, bila tidak membawa kendaraan bermotor untuk menuju tempat-tempat wisata di Kawasan Dieng bisa naik ojek yang banyak mangkal atau sewa motor yang biasanya disediakan oleh beberapa penginapan, sedikit bocoran untuk yang ingin menyewa motor biayanya Rp. 40.000 untuk satu motor, sedangkan untuk naik ojek dikenakan biaya sebesar Rp. 50.000 untuk keliling dieng (maksimal 4 tempat wisata), jadi jangan khawatir bila kalian tidak membawa sepeda motor/kendaraan lainnya. Untuk masuk ke kawasan wisata dieng dikenakan tiket masuk Rp. 10.000 (obyek wisata kawah sikidang dan candi arjuna), Rp. 6.000 (obyek wisata telaga warna dan telaga pengilon). Kalau untuk biaya penginapan saya kurang tahu karena saat saya berlibur ke dieng saya tidak menginap alias PP.
Melihat Telaga Warna yang hijau toska benar-benar menakjubkan seperti memasuki dunia khayalan penuh misteri, ditambah dengan sulur-sulur akar pohon menjulur ke tengah telaga terlihat layaknya seekor naga. Menurut mitos yang beredar di masyarakat yang kebetulan saya temui di kawasan telaga warna, dahulu ada selendang milik seorang bidadari jatuh ke dalam telaga, sehingga mengakibatkan warna-warni di telaga tersebut. Tapi secara ilmiah Telaga Warna adalah danau vulkanik yang berisi air bercampur dengan belerang, jika kena sinar matahari akan memantulkan warna karena kandungan mineralnya. Bahkan saya beberapa kali melihat letupan air mendidih di tengah telaga. Bagi yang suka narsis, foto dari berbagai angle pun hasilnya fantastis loh. Katanya 20 tahun yang lalu warnanya bisa hijau, biru, merah, dan hitam. Tapi sekarang hanya tinggal hijau saja hanya yang membedakn adalah kecerahan warnanya. Nggak tahu kenapa bisa begitu.  Masih di area Telaga Warna ada Telaga lain yaitu Telaga Pengilon yang dalam bahasa Jawa Ngilo artinya berkaca atau bercermin. Mitosnya jika seseorang berkaca di telaga tersebut akan terlihat tampan atau cantik jika dia berhati baik, sebaliknya akan terlihat jelek kalau berhati busuk. Itu hanya mitos dan faktanya cantik atau jelek sama saja ko hehehe
Saya diberitahu oleh masyarakat setempat tentang trik untuk menikmati keindahan telaga ini. Di pintu belakang telaga terdapat sebuah jalan setapak menanjak ke arah salah satu bukit yang memagari telaga. Jalan tanah ini sangat sempit, hanya cukup untuk dilewati satu orang saja jadi saat itu saya seperti sedang ular-ularan dengan pengunjung lain atau tepatnya berbaris ke belakang hehehe. Tanjakannya memang tidak begitu terjal, namun cukup licin mengingat kawasan Dieng sering dilanda hujan. Beberapa ratus meter mendaki, sampailah di puncak bukit dengan pemandangan yang akan membuat siapa saja terpesona saat melihatnya. Di bawah sana, telaga warna terhampar indah dikelilingi oleh rimbunnya hutan. Air di pinggir telaga berwarna ungu cantik, bergradasi dengan warna hijau di tengah, dan hijau pucat di pusat telaga padahal pas di bawah hanya warna hijau yang saya lihat. Di ujung sebelah sana, sebuah padang rumput sempit memisahkannya dengan telaga jernih yang disebut Telaga Pengilon atau telaga yang bisa dipakai untuk berkaca. Jauh di depan, ada barisan perbukitan dari Gunung Prau dan Gunung Pakuwaja berderet memutar, membentuk pagar betis yang seolah melindungi dua telaga jelita ini dari siapa saja yang ingin merusaknya.
Beberapa foto liburan saya:







No comments:

Post a Comment