Dieng adalah kawasan dataran
tinggi di Jawa Tengah, yang termasuk wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo. Letaknya berada di sebelah
barat kompleks Gunung Sindoro dan Gunung
Sumbing. Wilayah dieng terbagi menjadi dua yaitu Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten
Banjarnegara
dan Dieng ("Dieng Wetan"), Kecamatan
Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Wilayah ini merupakan salah
satu wilayah paling terpencil di Jawa Tengah.
Dataran tinggi dieng memiliki kekayaan
alam dan kekayaan budaya yang sangat luar biasa. Salah satu ikonnya adalah
Telaga Warna, telaga jelita dengan hutan lindung yang masih perawan di
sekelilingnya.
Memasuki
kawasan dataran tinggi Dieng saya sudah merasakan hawa dingin yang sangat
ekstrim, angin kencang super dingin yang semakin siang dinginnya malah semakin
menusuk tulang. Switer yang tebal saja masih terasa dinginnya. Jangan coba-coba
wisata di Dieng tanpa membawa baju hangat. Cuaca yang
sedikit mendung, semilir angin yang sepoi-sepoi dipadu dengan kicauan burung di
tengah lautan Dandelion atau
Randa Tapak merupakan sebuah nyanyian alam yang senantiasa menunjukkan kesempurnaan
harmoninya. Ini bukan sebuah ungkapan belaka, namun sebuah kenyataan yang bisa
ditemukan tumbuh liar di sepanjang jalan setapak
kawasan telaga warna. Tanaman ini juga banyak tersebar di sekitar Museum
Kaliasa, Padang Rumput Dekat Komplek Candi Dieng dan tempat-tempat lainnya.
Dataran
Tinggi Dieng berada di 2093 meter di atas permukaan laut. Nama Dieng sendiri
dari kata Di
Hyang yang berarti Negeri Para Dewa (Abode the Gods). Memang
di masa jaman dulu Dieng merupakan pusat peradaban Hindu, katanya lebih dari
400 candi yang dibangun pada sekitar abad 8 dan 9 ditemukan, tapi sayang sampai
hari ini hanya 8 candi yang masih utuh. Kawasan Dieng juga memiliki banyak
sekali tujuan wisata. Jadi kalau hanya 1 hari disana rasanya kurang, berhubung
liburan saya juga terbatas jadi saya hanya ke tempat-tempat yang jadi highlight
Dieng yaitu kawasan candi arjuna, kawah sikidang dan tujuan utama saya yaitu
telaga warna.
Telaga Warna yang memang jadi tujuan utama
liburan kali ini, suasananya yang teduh karena tertutup Pepohonan Hijau cocok
bagi para Wisatawan untuk melepas lelah setelah berkeliling ke obyek wisata
Dieng lainnya. Selain itu Warung Makan, Pusat Jajanan dan Oleh-oleh juga banyak
bertebaran disekitar Obyek Wisata ini, saya berkeliling menjelajahi tempat
wisata dengan menggunakan sepeda motor yang memang saya gunakan sejak dari
kuningan, bila tidak membawa kendaraan bermotor untuk menuju tempat-tempat
wisata di Kawasan Dieng bisa naik ojek yang banyak mangkal atau sewa motor yang
biasanya disediakan oleh beberapa penginapan, sedikit bocoran untuk yang ingin
menyewa motor biayanya Rp. 40.000 untuk satu motor, sedangkan untuk naik ojek dikenakan
biaya sebesar Rp. 50.000 untuk keliling dieng (maksimal 4 tempat wisata), jadi
jangan khawatir bila kalian tidak membawa sepeda motor/kendaraan lainnya. Untuk
masuk ke kawasan wisata dieng dikenakan tiket masuk Rp. 10.000 (obyek wisata
kawah sikidang dan candi arjuna), Rp. 6.000 (obyek wisata telaga warna dan
telaga pengilon). Kalau untuk biaya penginapan saya kurang tahu karena saat
saya berlibur ke dieng saya tidak menginap alias PP.
Melihat
Telaga Warna yang hijau toska benar-benar menakjubkan seperti memasuki dunia
khayalan penuh misteri, ditambah dengan sulur-sulur akar pohon menjulur ke
tengah telaga terlihat layaknya seekor naga. Menurut mitos yang beredar di
masyarakat yang kebetulan saya temui di kawasan telaga warna, dahulu ada selendang
milik seorang bidadari jatuh ke dalam telaga, sehingga mengakibatkan
warna-warni di telaga tersebut. Tapi secara ilmiah Telaga Warna adalah danau
vulkanik yang berisi air bercampur dengan belerang, jika kena sinar matahari
akan memantulkan warna karena kandungan mineralnya. Bahkan saya beberapa kali
melihat letupan air mendidih di tengah telaga. Bagi yang suka narsis, foto dari
berbagai angle pun hasilnya fantastis loh. Katanya 20 tahun yang lalu warnanya
bisa hijau, biru, merah, dan hitam. Tapi sekarang hanya tinggal hijau saja
hanya yang membedakn adalah kecerahan warnanya. Nggak tahu kenapa bisa begitu. Masih di area Telaga Warna ada Telaga lain
yaitu Telaga
Pengilon yang dalam bahasa Jawa Ngilo artinya berkaca atau
bercermin. Mitosnya jika seseorang berkaca di telaga tersebut akan terlihat
tampan atau cantik jika dia berhati baik, sebaliknya akan terlihat jelek kalau
berhati busuk. Itu hanya mitos dan faktanya cantik atau jelek sama saja ko
hehehe
Saya
diberitahu oleh masyarakat setempat tentang trik untuk menikmati keindahan
telaga ini. Di pintu belakang telaga terdapat sebuah jalan setapak menanjak ke
arah salah satu bukit yang memagari telaga. Jalan tanah ini sangat sempit,
hanya cukup untuk dilewati satu orang saja jadi saat itu saya seperti sedang
ular-ularan dengan pengunjung lain atau tepatnya berbaris ke belakang hehehe.
Tanjakannya memang tidak begitu terjal, namun cukup licin mengingat kawasan
Dieng sering dilanda hujan. Beberapa ratus meter mendaki, sampailah di puncak
bukit dengan pemandangan yang akan membuat siapa saja terpesona saat
melihatnya. Di bawah sana, telaga warna terhampar indah dikelilingi oleh
rimbunnya hutan. Air di pinggir telaga berwarna ungu cantik, bergradasi dengan
warna hijau di tengah, dan hijau pucat di pusat telaga padahal pas di bawah
hanya warna hijau yang saya lihat. Di ujung sebelah sana, sebuah padang rumput
sempit memisahkannya dengan telaga jernih yang disebut Telaga Pengilon atau
telaga yang bisa dipakai untuk berkaca. Jauh di depan, ada barisan perbukitan
dari Gunung Prau dan Gunung Pakuwaja berderet memutar, membentuk pagar betis
yang seolah melindungi dua telaga jelita ini dari siapa saja yang ingin
merusaknya.
Beberapa foto liburan
saya:







No comments:
Post a Comment