ASPEK
NEUROLOGI BAHASA
A.
Pengertian pemerolehan bahasa
Langacker
dalam Tarigan (1983: ) memaparkan bahwa pemerolehan bahasa merupakan jenis yang seragam,dalam arti bahwa semua
manusia mempelajari satu dan juga merupakan jenis yang khusus,dalam arti bahwa
hanya manusialah yang mempelajari satu.
Perlengkapan pemerolehan atau
acquisition device yang merupakan suatu perlengkpan hipotetis yang berdasarkan
suatu input data linguistik primer dari suatu bahasa menghasilkan suatu output
yang terdiri atas suatu bahasa adekuat secara deskriptif buat bahasa tersebut.
Peralatan atau perlengkapan
pemerolehan bahasa haruslah merupakan keberdikarian bahasa atau
language-independent,yaitu mampu mempelajari setiap bahasa manusia yang mana
sajapun,dan harus menyediakan serta menetapkan suatu batasan pengertian atau
gagasan ‘bahasa manusia’.Namun ada yang mengatakan bahwa perlengkapan
pemerolehan bahasa atau language-acquisition device adalah jenis kotak hitam
atau black box (Tarigan. 1983:85).
Menurut
Chomsky dalam Tarigan (1983: ) menjelaskan bahwa model pemerolehan bahasa atau yang disebut acquisition model merupakan
suatu teori siasat yang dipergunakan
oleh kanak-kanak untuk menyusun suatu tata bahasa yang tepat bagi bahasanya dan
untuk mempelajari bahasanya berdasarkan suatu sampel data linguistik utama yang
terbatas.
Namun kita tidak dapat menutup
mata akan adanya kesulitan-kesulitan yang harus dihadapi dalam penelitian
tersebut. Berikut ini dikemukakan beberapa indikasi atau petunjuk
kesulitan-kesulitan praktis dan teoritis yang terlibat dalam penelaah
pemerolehan bahasa.
Pertama, sukar berdasarkan
alasa-alasan praktis untuk menelaah data input,merupakan jumlah dan hakekat
ujaran yang harus disingkapkan oleh kanak-kanak selama masa dua atau tiga tahun
(yang disebut oleh Chomsky sebagai linguistic primer)
Kedua,sulit menelaah data
output ketatabahasaan yang tepat,ucap-ucapan yang dihasilkan oleh
kanak-kanak.contohnya: ‘ibu air’ mungkin saja ibu mengambil air atau sebaliknya
ibu minum air, ataupun ‘ibu basah kena air’
Ketiga,sulit menelaah
hubungan-hubungan input-output karena disebabkan oleh keterlambatan waktu anak
untuk menerima data input dan output.contohnya,Guru menjelaskan materi
sosiologi,anak ini menerima apa yang dijelaskan tetapi tidak sesuai yang dihasilkan ucapan
anak.
Keempat,sulit menguji
kompetensi kanak-kanak serta memisahkan variabel-variabel performansi.contohnya
bagaimana kita tahu bila seorang kanak-kanak yang masih kecil membuat suatu
kesalahan dari sudut sistem kompetensinya sendiri,dan subyek yang bukan main
sulitnya untuk dites.
Kelima,walaupun agaknya jelas
bahwa pembedaan struktur permukaan benar dan sah bagi bahasa kanak-kanak,namun
tidaklah begitu jelas hubungan apa sebenarnya yang terdapat antara komponen
dalam tata bahasa orang dewasa dan komponen dalam tata bahasa kanak-kanak.
Penyusun model pemerolehan
bagi bahasa seorang kanak-kanak yang mampu belajar bahasa harusnya mempunyai:
a.
Suatu teknik untuk menggambarkan tanda-tanda input
b.
Suatu cara menggambarkan informasi struktural
mengenai tanda-tandaa ini
c.
Beberapa pembatasan pertama terhadap suatu kelas
hipotesis yang tepat mengenai struktur bahasa.
d.
Suatu metode buat menentukan apa yang dinyatakan
secara tidak langsung atau diimplikasikan oleh setiap hipotesis serupa itu
mengenai setiap kalimat.
e.
Suatu metode buat memilih salah satu dari
hepotesis-hipotesis(yang agaknya tidak terhingga banyaknya) yang diizinkan oleh
(b) dan yang
cocok dengan data linguistic utama.
Dari
uraian diatas dapat kita ketahui bahwa model pemerolehan bahasa seorang
kana-kanak agar mampu belajar bahasa harus mempunya teknik, cara, dan metode.
B.
Struktur, Fungsi, dan
Pertumbuhan Otak
Otak ( serebrum dan serebelum ) adalah salah satu
komponen dalam system susunan saraf manusia. Komponen lainnya adalah sumsum
tulang belakang atau medula spinalis dan saraf tepi. Yang pertama, otak,
berada di dalam ruang tengkorak ; medulla spinalis berada di dalam ruang tulang
belakang ; sedangkan saraf tepi ( saraf spinal dan saraf otak ) sebagian berada
di luar kedua ruang tadi ( Kusumoputro, 1981).
Otak seorang bayi ketika baru dilahirkan beratnya
hanya kira-kira 40 % dari berat otak orang dewasa ; sedangkan mahluk primate
lain, seperti kera dan simpanse adalah 70% dari otak dewasanya (Menyuk, 1971:
31). Dari perbandingan tersebut tampak bahwa manusia kiranya telah dikodratkan
secara biologis untuk mengembangkan otak dan kemampuannya secara cepat.
Perbedaan otak manusia dan otak mahluk lain,
seperti kera dan simpanse, bukan hanya terletak pada beratnya saja, melainkan
juga pada struktur dan fungsinya. Pada otak manusia ada bagian-bagian yang
sifatnya disebut manusiawi, seperti bagian-bagian yang berkenaan dengan
pendengaran, ujaran, pengontrol alat ujaran, dan sebagainya. Pada otak mahluk
lain tidak ada bagian-bagian yang berkenaan dengan ujaran itu. Sebaliknya, pada
otak mahluk lain, banyak bagian yang berhubungan dengan insting ; sedangkan
pada otak manusia tidak banyak. Ini berarti ; perbuatan mahluk lain lebih
banyak dikendalikan oleh insting dan perbuatan manusia bukan hanya karena
insting.
Dilihat dari atas, otak terdiri dari dua
hemister (belahan), yaitu hemisfer kiri dan hemisfer kanan, yang dihubungkan
oleh korpus kalosum. Tiap hemisfer terbagi lagi dalam bagian-bagian besar yang
disebut sebagai lobus, yaitu lobus frontalis, lobus parietalis, lobus
oksipitalis, lobus temporalis.
Permukaan otak yang disebut sebagai korteks serebri
tampak berbelok-kelok membentuk lekukan (disebut sulkus) dan benjolan (disebut
girus). Dengan adanya sulkus dan girus ini permukaan otak yang disebut korteks
serebri itu menjadi lebih luas.
Korteks serebri ini mempunyai peranan penting baik
pada fungsi elementer, seperti pergerakan, perasaan, dan pancaindra, maupun
pada fungsi yang lebih tinggi dan kompleks yaitu fungsi mental atau fungsi
luhur atau fungsi kortikal dari kata korteks. Fungsi kortikal ini antara lain
terdiri dari isi pikiran manusia, ingatan atau memori, emosi, persepsi,
organisasi gerak dan aksi, dan juga fungsi bicara (bahasa).
Girus yang terdapat pada korteks hemisfer
kiri dan hemisfer kanan mempunyai peranan bagi masing-masing fungsi tertentu.
Korteks hemisfer kanan menguasai fungsi elementer dari sisi tubuh sebelah kiri,
dan korteks hemisfer sebelah kiri menguasai fungsi tubuh sebelah kanan. Andaikan
korteks presentral hemisfer kanan tempat pusat pergerakan tubuh rusak, maka
akan terjadi kelumpuhan pada sisi tubuh sebelah kiri dan sebaliknya pula.
Perkembangan atau pertumbuhan sel otak manusia
berlangsung dengan sangat cepat, sejak bayi hingga akhir masa remaja.
Pengenalan terhadap lingkungan baru pada rentang usia tersebut, memicu lahirnya
jutaan sel-sel baru, dan pertumbuhan ini masih akan terus berlangsung pada usia
dewasa, hanya saja agak lebih lambat.
Perkembangan atau pertumbuhan otak manusia menurut
Volpe (1987) terdiri atas enam tahap, yaitu :
·
Pembentukan tabung neural.
·
Profilerasi selular untuk membentuk calon sel
neuron dan glia.
·
Perpindahan selular dari germinal subependemal ke
korteks.
·
Deferensiasi selular menjadi neuron spesifik.
·
Perkembangan akson dan dendrite yang menyebabkan
bertambahnya sinaps.
·
Elimenisi selektif neuron, sinaps, dan sebagainya
untuk spesifikasi.
Kelahiran saraf-saraf baru bisa saja terjadi di
wilayah otak lain dan urat saraf tulang belakang. Ia seperti sel kulit, lahir
untuk memperbaharui sel-sel yang telah mati. Dengan demikian, kemungkinan besar
sel otak juga dapat memperbaharui dirinya sepanjang waktu.
C.
Fungsi
Kebahasaan Otak
Sudah dikemukakan bahwa kedua hemisfer otak
mempunyai peranan yang berbeda bagi fungsi kortikal. Fungsi bicara bahasa
dipusatkan pada hemisfer kiri bagi orang yang tidak kidal. Hemisfer kiri ini
disebut hemisfer dominant bagi bahasa dan korteksnya dinamakan korteks bahasa.
Hemisfer dominant atau superior secara morfologis memang agak berbeda dari
hemisfer yang tidak dominant atau inferior. Hemisfer dominant lebih berat,
lebih besar girusnya dan lebih panjang. Hemisfer kiri yang terutama mempunyai
arti penting bagi bicara bahasa, juga berperan untuk fungsi memori yang
bersifat verbal. Sebaliknya, hemisfer kanan penting untuk fungsi emosional,
lagu isyarat, baik yang emosional ataupun yang verbal.
Hemisfer kiri memang dominant untuk fungsi bicara
bahasa, tetapi tanpa aktifitas hemisfer kanan, maka pembicaraan seorang akan
menjadi monoton, tak ada prosodi, tak ada lagu kalimat ; tanpa menampakan
adanya emosi ; dan tanpa disertai isyarat-isyarat bahasa.
Penentuan dan pembuktian daerah-daerah tertentu
dalam otak dalam kaitannya dengan fungsi bicara bahasa dan fungsi-fungsi lain
pada awalnya dilakukan dengan penelitian terhadap orang-orang yang mengalami
kerusakan otak atau kecelakaan yang mengenai kepala. Kemudian dilakukan
juga dengan berbagai eksperimen terhadap orang sehat.
Satu daerah lagi yang terlibat dalam proses ujaran
adalah daerah korteks ujaran superior atau daerah motor suplementer.
Bukti bahwa daerah itu dilibatkan dalam artikulasi ujaran fisik berasal dari
ahli bedah saraf Penfield dan Robert, yang melakukan penelitian dengan teknik
ESB. Dengan batuan arus listrik keduanya dapat mengindentifikasikan
daerah-daerah otak yang dipengaruhi rangsangan listrik. Daerah-daerah yang
dipengaruhi rangsangan listrik itu mempengaruhi hasil ujaran secara normal.
Karena daerah motor suplementer itu berdekatan dengan celah yang digunakan
untuk mengendalikan gerak fisik, yakni menggerakan tangan, kaki, lengan dan
lain-lain, daerah itu juga mengendalikan penghasilan ujaran.
Hasil penelitian tentang kerusakan otak oleh Broca
dan Wernickle serta penelitaian Penfield dan Robert mengarah pada kesimpulan
bahwa hemisfer kiri dilibatkan dalam hubungannya dengan fungsi bahasa. Kranshen
(1977) mengemukakan lima alas an yang mendasari kesimpulan itu. Kelima alas an
itu adalah berikut ini.
·
Hilangnya kemanpuan berbahasa akibat kerusakan otak
lebih sering disebabkan oleh kerusakan jaringan saraf hemisfer kiri daripada
hemisfer kanan.
·
Ketika hemisfer kiri dianestesia kemampuan
berbahasa menjadi hilang, tetapi ketika hemisfer kanan dianestesia kemanpuan
bahasa itu tetap ada.
·
Sewaktu bersaing dalam menerima masukan bahasa
secara bersamaan dalam tes dikotik, ternyata telinga kanan lebih unggul dalam
ketepatan dan kecepatan pemahaman daripada telinga kiri. Keunggulan telinga
kanan itu karena hubungan antara telinnga kanan dan hemisfer kiri lebih baik
daripada hubungan telingan kiri dengan hemisfer kanan.
·
Ketika materi bahasa diberikan melalui penglihatan
mata kanan dan mata kiri, maka ternyata penglihatan kanan lebih cepat dan lebih
tepat dalam menangkap materi bahasa itu daripada penglihatan kiri. Keunggulan
penglihatan kanan itu karena hubungan antara penglihatan kanan dan hemisfer
kiri lebih baik daripada hubungan penglihatan kiri dan hemisfer kanan.
·
Pada waktu melakukan kegiatan berbahasa baik secara
terbuka maupun tertutup, hemisfer kiri menunjukan kegiatan elektris lebih hebat
daripada hemisfer kanan. Hal ini diketahui melalui analisis gelombang otak.
Hemisfer yang lebih aktif sedikit dalam menghasilkan gelombang alpha.
D.
Teori
Lateralisasi
Banyak pakar psikologi yang meragukan teori
lateralisasi, bahwa pusat-pusat bahasa dan ucapan berada pada hemisfer kiri.
Mereka berpendapat bahwa seluruh otak bertanggung jawab dan terlibat dalam
proses pemahaman dan produksi bahasa. Pendapat ini dalam psikologi disebut
holisme. Namun demikian, dari bukti-bukti eksperimental yang dilakukan terhadap
otak yang normal, kebenaran teori lateralisasi itu bisa dipertimbangkan.
Berikut dikemukakan beberapa eksperimen yang pernah dilakukan untuk menyokong
teori lateralisasi itu.
a)
Tes Menyimak
Rangkap ( Dichotic Listening)
Tes ini dilakukan dengan memperdengarkan pasangan
kata yang berbeda (misalnya boy dan girl ) pada waktu yang betul-betul
bersamaan di telinga kiri dan kanan orang yang dites dengan kenyaringan yang
sama.
Ternyata kata boy yang diperdengarkan pada telinga
sebelah kanan dapat diulangi dengan baik dari pada kata girl yang
diperdengarkan di telinga sebelah kiri. Hasil tes ini membuktikan bahwa
telinga kanan (yang diladasi oleh hemisfer kiri) lebih peka terhadap
bunyi-bunyi bahasa dibandingkan dengan telinga kiri (yang dilandasi oleh
hemisfer kanan).
Tes Stimulus Elektris (
Electrical Stimulation of Brain )
Dengan tes ini pusat bahasa pada otak distimuluskan
dengan aliran listrik melalui thalamus lateral kiri sehingga menimbulkan
anomia, di mana subjek yang diteliti tidak dapat menyebutkan nama benda yang
ada di depannya, meskipun dia lancar bercakap-cakap. Stimulus elektris yang
sama yang dilakukan terhadap hamisfer kanan melalui thalamus lateral kanan
tidak menyebabkan anomia. Tes stimulus elektris ini membuktikan bahwa
lateralisasi hemisfer kiri untuk bahasa telah merupakan satu kenyataan yang tidak
dapat dibantah.
c)
Tes Grafik Kegiatan Elektris (
Electris Encephalo Graphy )
Tes ini dilakukan untuk mengetahui apakah aliran
listrik pada otak apabila seseorang sedang bercakap-cakap dan kalau ada bagian
manakah yang giat mendapatkan aliran lisrtik ini. Sebalinya juga dengan tes ini
juga, grafik kegiatan elektris telah direkam pada hemisfer kanan bila
subjek-subjek yang diteliti sedang giat melakukan kegiatan yang bukan ujaran
bahasa. Tes grafik kegiatan elektris ini telah membuktikan bahwa lateralisasi
untuk bahasa adalah pada hamesfer kiri, sedangkan hemisfer kanan untuk
fungsi-fungsi lain yang bukan bahasa.
d)
Tes Wada ( Tes Amysal )
Dalam tes ini obat sodium amysal diinjeksikan
kedalam system peredaran salah satu belahan otak. Belahan otak yang mendapatkan
obat ini menjadi lumpuh untuk sementara. Jika hemisfer kanan yang dilumpuhkan
dengan sodium amysal ini, maka anggota-anggota badan sebelah kiri tidak
berfungsi sama sekali. Namun, fungsi bahasa tidak terganggu sama sekali dan
orang yang diteliti ini dapat bercakap-cakap dengan normal seperti biasa.
Apabila hemisfer kiri yang diberi sodium amysal maka anggota badan sebelah
kanan menjadi lumpuh, termasuk fungsi bahasa.
e)
Teknik Fisiologi Langsung (
Direct Physiological Technique )
Teknik fisiologi langsung ini merekam secara
langsung getaran-getaran elektris pada otak dengan cara electro encephalo
grapky, setelah ke telinga kiri dan telinga kanan secara berturut-turut
diperdengarkan bunyi bisikan dan bunyi ujaran bahasa. Ternyata suara bising
terekam dengan baik pada hemisfer kanan, sedangkan bunyi ujaran bahasa terekam
dengan baik pada hemisfer kiri.
f)
Teknik Belah Dua Otak (
Bisected Brain Technique )
Pada teknik ini kedua hemisfer sengaja dipisahkan
dengan memotong korpus kalosum, sehingga kedua hemisfer itu tidak mempunyai
hubungan. Kemudian pada tangan kiri pasien yang matanya ditutup dengan kain,
diletakan sebuah benda misalnya anak kunci. Ternyata subjek mengenal benda itu
dengan melakukan gerak membuka pintu dengan menggunakan anak kunci itu, tetapi
tidak dapat menyebutkan nama benda itu. Mengapa, karena penyebutan nama benda
dilandasi oleh hemisfer kiri, sedangkan tangan kiri yang memegang benda itu
dilandasi dengan hemisfer kanan. Dengan kata lain hemisfer kiri tidak
mengetahui apa yang dikerjakan oleh hemisfer kanan karena hubungan keduanya
telah diputuskan.
4.
Teori Lokalisasi
Teori lokalisasi atau lazim juga disebut pandangan
lokalisasi berpendapat bahwa pusat-pusat bahasa dan ucapan berada di daerah
Broca dan daerah Wernicke seperti sudah disebut sebelumnya.
Ada beberapa cara lain untuk menunjukan teori
lokalisasi ini antara lain sebagai berikut.
a)
Teknik Stimulus Elektrik
Teknik ini dilakukan dengan cara menstimulasi
bagian-bagian tertentu permukaan korteks dengan aliran listrik, seperti yang
telah dilakukan dua ahli bedah saraf, Penfield dan Robert (1959) pada waktu
proses pengobatan bedah saraf pasien-pasien otak.
Mereka menemukan hanya pada tiga bagian saja yang
terdapat kelainan-kelainan yang merusak bahasa. Ketiga tempat itu adalah
berikut ini.
·
Bagian depan girus tengah sebelah bawah lobus depan
kiri, yaitu bagian yang sekarang dikenal dengan daerah (medan) Broca.
·
Bagian atau medan temporo pariental posterior,
yaitu yang sekarang dikenal sebagai daerah (medan) Wernicke.
·
Medan motor suplementer yang terdapat pada
permukaan tengah belahan korteks sebelah kiri, yaitu yang sekarang dikenal
sebagai korteks motor.
b)
Teknik Perbedaan Anatomi Otak
Dalam berbagai literature mengenai teori lokalisasi
muncul satu pertanyaan : jika pusat-pusat bahasa hanya berada pada hemisfer
kiri, tentulah kedua hemisfer itu, kiri dan kanan tidak simetris, hemisfer kiri
tentu lebih besar dari pada hemisfer kanan.
Untuk menjawab pertanyaan ini Geschwind dan Levistsky
(1968) telah menganalisis secara terperinci 100 otak manusia normal setelah
mereka meninggal. Keduanya menemukan bahwa planun temporale yaitu daerah
dibelakang girus Heschl jauh lebih besar pada hemisfer kiri. Bahkan perbedaan
ini dapat langsung dilihat dengan mata.
c) Cara Melihat Otak Dengan PET (Positron Emission Tomography)
Cara lain untuk membuktikan teori
lateralisasi dan lokalisasi adalah dengan cara melihat otak secara langsung
dengan menggunakan alat yang disebut PET. Dengan PET ini kita melihat
bagian-bagian otak terutama bagian-bagian korteks, pada waktu bagian-bagian itu
sedang berfungsi.
Umpamanya kalau pasien diminta mendengarkan lagu
atau musik, maka korteks hemisfer kanan akan kelihatan bercahaya dan berwarna
merah, tetapi apabila dia mendengarkan bahasa (kaliamt-kalimat) maka korteks
hemifer kirilah yang bercahaya dan berwarna merah. Hal ini membuktikan bahwa
suatu latihan yang dilakukan dengan kesadarn dan kefahaman yang tinggi dapat
menukar reaksi fungsional otak dari hemisfer kanan ke hemisfer kiri.
5.
Hamisfer yang Dominan
Menurut Yule (1985) fungsi bagian tertentu pada
satu daerah otak yang mengalami kerusakan akan digantikan oleh penggantinya
dibagian otak yang lain. Oleh karena itu, sangat diperlukan kecermatan untuk
menyatakan hubungan-hubungan antara aspek-aspek perilaku linguistic dan
letaknya dalam otak.
Krashen lebih jauh mengatakan bahwa cara kerja
hemisfer tertentu pada setiap orang dapat bervariasi dalam dua hal berikut.
·
Sebagian orang kurang mendapat lateralisasi
daripada sebagian orang yang lain. Maksudnya, untuk orang-orang tertentu
kemampuan berbahasa dikendalikan oleh hemisfer kiri orang-orang tertentu lain
oleh hemesfer kanan.
·
Sebagian orang lebih cenderung pada penggunaan
salah satu hemisfer kiri atau kanan, secara lebih siap untuk kondisi kognitif.
Teori mengenai daerah konvergensi bahasa itu antara
lain mengatakan berikut ini.
·
Setiap orang memiliki pola otak yang unik yang
mendasari kemampuan berbahasa yang dimilikinya. Hal ini dibuktikan dengan hasil
temuan bahwa ternyata wanita memiliki pola otak yang membuat IQ verbalnya lebih
besar dibanding pria.
·
Bahasa pertama (bahasa ibu) seseorang berkaitan
erat dengan jaringan sel saraf, sedangkan bahasa kedua berkaitan dengan otak.
Ini dibuktilkan dari hasil penelitian terhadap orang terserang stroke. Stroke
yang menyerang salah satu bagian otak dapat membuat hilangnya kemampuan bahasa
pertama, sedangkan bahasa kedua (yang sedang dipelajari) masih melekat atau
dapat juga sebaliknya yang hilang bahasa kedua sedangkan bahasa pertama masih
tetap ada.
Kritik terhadap teori lateralisasi sebagai hasil
penelitian lebih lanjut berujung pada lahirnya hipotesis adanya hemisfer yang
dominant yang mungkin pada hemisfer kiri dan mungkin pula pada hemisfer
kanan.
6.
Otak Wanita
Majalah Femina edisi bulan Juni 1999 menurunkan
artikel berjudul "Otak Kita, Keunggulan Kita", dan yang dimaksud
dengan kita di sini adalah wanita. Dalam tulisan itu diakui memang ukuran otak
pria lebih besar antara 10-15% dari pada otak wanita. Padahal temuan mutakhir
dibidang neurology menegaskan bahwa dalam beberapa hal otak wanita lebih
unggul. Dimanakah letak keunggulan otak wanita?
a)
Otak Wanita Lebih Seimbang
Asumsi adanya perbedaan cara kerja otak pria dan
wanita itu terutama dikukuhkan oleh perbedaan kepadatan sel-sel saraf atau
neuron pada suatu daerah di otak. Hasil penelitian menunjukan bahwa lepas dari
soal ukuran, daerah tertentu otak wanita lebih kaya akan neuron dibandingkan
otak pria. Perlu dicatat makin banyak jumlah neuron di suatu daerah, makin kuat
fungsi otak di sana.
Selain itu, kalau kanak-kanak perempuan lebih cepat
pandai bicara, membaca, dan jarang mengalami gangguan belajar dibandingkan
kanak-kanak laki-laki, para ahli memperkirakan adanya kaitan dengan kemampuan
wanita menggunakan kedua belah hemisfernya (kiri dan kanan) ketika membaca atau
melakukan kegiatan verbal lain. Sedangkan pria hanya menggunakan salah satu
hemisfernya (biasanya sebelah kiri).
b)
Otak Wanita Lebih Tajam
Menurut Dr. Thomas Crook dan sejumlah ahli, setelah
melakukan pengujian indra, bahwa penglihatan wanita lebih tajam daripada pria,
meski diakui bahwa lebih banyak wanita yang lebih dulu memerlukan bantuan
kecamata daripada pria. Penglihatan wanita mulai menurun sejak memasuki usia 35
sampai 44 tahun, sedangkan pria mulai 45 sampai 54 tahun.
Begitu juga dengan pendengaran wanita lebih tajam
daripada pria. Maka tak mengherankan kalau pada malam hari tangisan bayi biasa
membangunkan sang ibu, sementara sang ayah tetap terlelap. Pendengaran wanita
baru mulai berkurang menjelang usia 50-an.
Dr.Thomas Crook juga menyimpulkan bahwa ingatan
pria kurang tajam dibanding dengan ingatan wanita. Baik wanita maupun pria
sama-sama akan mengalami penurunan daya ingat sesuai dengan pertumbuhan usia.
Ketajaman otak wanita bukan hanya pada indranya,
tapi juga pada perasaannya. Hal ini terbukti ketika diminta mengenang
pengalaman emosionalnya dengan bantuan MRI, tampak wanita lebih responsive
daripada pria.
c)
Lebih Awet dan Selektif
Dalam jurnal kedokteran Arhieves of Neurology
terbitan tahun 1998 (femina, Juni 1999) diungkapkan temuan bahwa otak pria
mengerut lebih cepat daripada otak wanita. Ketika sama-sama muda memang otak
pria lebih besar daripada otak wanita, tetapi ketika keduanya mencapai usia 40
tahun, otak pria menyusut (terutama dibagian depan) sehingga besarnya sama
dengan otak wanita.
Penyusutan otak pria itu, menurut temuan Ruben,
berkaitan dengan efisiensi pemakaian energi. Otak wanita memiliki kemampuan
untuk menyesuaikan kecepatan metabolisme otak (pemakaina energi oleh otak)
dengan umumnya, sedangkan kecepatan metabolisme pria semakin boros energi
dengan bertambahnya usia. Wanita meskipun juga mengalami penyusutan jaringan
secara menyeluruh ketika bertambah tua tubuhnya punya kecenderungan untuk
menghemat apa yang ada, termasuk otaknya.
7.
Peningkatan Kemampuan Otak :
Membaca dengan Kedua Belah Otak
Teori lateralisasi dan lokalisasi berpendapat bahwa
wilayah-wilayah tertentu dalam otak memiliki fungsi-fungsi tertentu, seperti
ideasi bahasa berada pada hemisfer kiri dan kemampuan berbicara ada pada daerah
Broca sedangkan kemampuan memahami terdapat pada daerah Wernicke. Kesimpulan
yang diajukan telah dibuktikan berdasarkan penelitian pasien-pasien yang
mengalami kerusakan otak juga dari hasil penelitian terhadap sejumlah orang
yang tidak mengalami kerusakan otak.
Harian Media Indonesia 6 Januari 2000, menurunkan
satu artikel berjudul " Membaca dengan Kedua Belah Otak ". dalam
artikel itu dikatakan dalam era globalisasi dewasa ini agar tidak ketinggalan
informasi yang sudah mengglobal orang harus membaca. Namun, pekerjaan membaca
ini menjadi sukar bagi orang yang tidak bisa membaca ditempat yang bising, atau
bagi orang yang tidak punya banyak waktu karena kesibukannya dengan
pekerjaannya.
Orang dewasa rata-rata dapat membaca 250 kata per
menit. Namun setelah 36 jam daya ingat yang tersisa dari yang dibaca itu tinggal
10 %. Jadi, orang membaca selama satu jam hanya menguasai bahan yang dibacanya
selama enam menit. Kebanyakan orang hanya menggunakan hemisfer kirinya. Wilayah
hemisfer kiri biasanya membaca dengan pola analisis, harfiah dan linear.
Sedangkan hemisfer kanan mampu melakukan pemahaman secara simbolik dan spasial,
serta mudah menangkap makna intuitif dan metaphor. Maka jika kedua
hemisfer ini bisa difungsikan secara bersamaan, kiranya membaca sekaligus
memahami teks dapat dilakukan dengan kecepatan luar biasa.
Menurut Diane Alexander, lambannya kecepatan
membaca dann minimnya daya ingat terhadap yang dibacanya adalah karena tidak
terfokusnya mata pada apa yang dibacanya. Seringkali ketika menghadapi sebuah
halaman buku, mata lari kederetan kata diseluruh halaman dan bukan pada satu
deret kalimat yang dibaca. Oleh karena itu menurut Diane, langkah pertama yang
harus dilakukan untuk mengubah kebiasaan itu adalah membaca dengan runtut dari
samping kiri ke samping kanan halaman, dengan bantuan jari tangan yang
digunakan untuk mengikuti baris demi baris kalimat tersebut. Mata harus
dibiasakan untuk mengikuti rute ini secara tertib.
Berdasarkan penelitian yang dikerjakan oleh Diane
Alexander, Ken Shear, dan kawan-kawannya dapat ditarik kesimpulan bahwa teori
lokalisasi yang menyatakan tiap wilayah otak memiliki fungsi-fungsi tetentu
ternyata tidak seratus persen benar sebab ternyata hemisfer kanan pun dapat
dilatih untuk tugas-tugas kebahasaan.
8.
Pemberbahasaan Hewan
Mengerti bahasa dan dapat berbahasa adalah dua hal
yang berbeda. Hewan-hewan yang dilatih, seperti dalam sirkus, memang mengerti
bahasa karena dia dapat melakukan perbuatan yang diperintahkan kepadanya. Namun
kemengertiannya itu sebenarnya bukanlah karena dia mengerti bahasa, melainkan
sebagai hasil dari respon-respon yang dikondisikan.
Meskipun demikian banyak pakar yang telah mencoba
mengajarkan bahasa manusia pada hewan primate, yakni simpanse. Di antara pakar
itu adalah sebagai berikut.
a)
Keith J. Hayes dan Catherine
Hayes
Keith dan Catherine adalah sepasang suami istri
yang memelihara seokor simpanse betina yang diberi nama Viki.kedua pasangan
suami istri itu berharap Viki dapat menirukan kata-kata manusia yang
didengarnya dan dapat menggunakannya dengan benar dalam keluarga tempat dia
dibesarkan. Pada akhirnya memang Viki dapat mempelajari posisi bibir dan mulut
dengan dibantu kedua tangannya untuk menghasilkan kata-kata yang diminta oleh
kedua orang tua angkatnya. Namun, meskipun Viki dapat mengucapkan kata-kata
itu, belum berarti dia dapat memahami makna kata-kata itu.
Hasil eksperimen itu ternyata kurang
menggembirakan. Setelah enam tahun berlangsung Viki memang dapat mengucapkan
kata-kata itu. Akan tetapi ternyata Viki hanya mau menirukan kata-kata itu
setelah pelatih mengucapkannya, dan hanya kalau dia diberi hadiah berupa
makanan atau minuman setelah itu.
b)
R. Allen Gardner dan Beatrice
T. Gardner
Sama halnya dengan Hayes, Allen Gardner dan
Beatrice Gardner adalah sepasang suami istri yang mencoba mengajarkan bahasa
pada simpanse betina bernama Washoe. Berdasarkan pengamatan terhadap Viki yang
tidak dapat mengucapkan kata-kata, Allen dan istrinya mendapatkan gagasan untuk
tidak mengajar Washoe dengan bunyi suara, melainkan dengan bahasa isyarat
Amerika yang digunakan oleh para tunarungu di Amerika.
Di samping itu mereka juga memotivasi Washoe untuk
mempelajari bahasa isyarat itu dengan cara menunjukan posisi tangan secara
berulang-ulang, dengan cara memperbaiki posisi tangan Washoe pada waktu membuat
isyarat. Hasilnya? Setelah dua tahun belajar Washoe telah dapat menggunakan 34
buah kata secara benar dalam situasi yang tepat, misalnya dia membuat isyarat
anjing ketika dia melihat gambar anjing atau ketika mendengar suara
anjing(tanpa melihat anjing).
Dibanding dengan anak manusia, kepandaian Washoe
memang belum apa-apa. Pada usia lima tahun anak manusia telah menguasai
beratus-ratus kata serta telah dapat membuat kalimat yang lebih kompleks. Namun
demikian, Washoe tercatat dalam sejarah sebagai simpanse yang dapat
berkomunikasi dengan kata-kata dalam bahasa isyarat bukan
lisan.
c)
David Premack dan Ann Premack
David dan Ann adalah sepasang suami istri yang coba
mengajarkan bahasa manusia pada beberapa simpanse, salah seekor diantaranya
bernama Sarah, seekor simpanse betina. Sarah diajarkan untuk menguasai bahasa
buatan yang disusun dari lempengan-lempengan plastic. Bentuk maupun warna
lempengan itu tidak berhubungan dengan maknanya. Misalnya, untuk apel lempengan
itu berbentuk segitiga berwarna biru dan konsep sama berbentuk lempengan
bergerigi berwarna orange.
Proses pembelajaran berlangsung sebagai berikut.
Sarah dan pengajarnya duduk di bangku secara terpisah. Sarah di tempatkan dalam
kandang dan pengajarnya duduk di ujung bangku itu. Untuk mengajarkan nama
makanan, misalnya, pengajar akan menukar makanan itu dengan lempengan plastic
yang sesuai. Umpamanya, dalam mengajarkan konsep apel pengajar meletakan
sepotong apel di atas meja dalam jarak yang tidak dijangkau Sarah. Kemudian
pengajar meletakan lempengan plastic segitiga biru dalam jangkauan Sarah, dan
pengajar tidak akan memberikan apel apabila Sarah tidak meletakan segitiga biru
itu pada sebuah papan bahasa yang ada di depannya.
Setelah menguasai sebuah kata (dalam bentuk
lempengan plasti), tahap berikutnya Sarah diajarkan mengurutkan dua buah kata,
misalnya, beri apel. Bila Sarah dapat membuat urutan seperti itu dia akan
diberi apel, tetapi bila salah misalnya menjadi apel beri, dia tidak akan
diberi apel.
Maka tampak bahwa simpanse, binatang primata yang
katanya tingkat kognisinya hanya satu jenjang di bawah manusia, tetap tidak
dapat menguasai bahasa manusia kalau bahasa itu kita sepakati sebagai alat
komunikasi verbal berupa system bunyi yang arbitrer. Viki, simpanse yang
dilatih oleh pasangan suami istri Hayes, memang bisa mengucapkan beberap kata
tertentu, tetapi dia hanya bisa mengucapkan apabila terlebih dahulu diucapkan
oleh pelatihnya dan apabila diberi hadiah. Begitu juga yang dilakukan Washoe,
Sarah, Lana, Nim Chimsky, tanpa upah mereka tidak mau melakukan apa-apa.
Tentang mengajarkan bahasa manusia pada simpanse
ini memang telah menimbulkan pendapat yang controversial. Namun, kiranya
perbedaan kodrat otak mereka dengan otak manusia, yang menyebabkan mereka tidak
mungkin menguasai bahasa manusia.
DAPTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. Psikolinguistik : Kajian Teoritik. Jakarta : Rineka
Cipta, 2003.
Dardjowidjojo Soenjono,
Psikolinguistik ( yayasan obor indnesia anagota IKAPI ;Jakarta). 2003